Demografi Kenapa Sosiologi ????

Akhirnya aku menulis tentang ini. Selama empat tahun aku berkecimpung di penelitian demografi sosial. Hal tersebut telah sedikit banyak mempengaruhiku.

Pertama mengenai studi metodologi, fakta demografis selalu melibatkan penelitian raksasa dan tidak sederhana. Raksasa karena sifat penelitian demografi seringkali melibatkan proporsi dari populasi yang massal dan luas wilayah tertentu. Tidak sederhana karena mahal dan musti diatur dengan metode yang telah ditentukan sebelumnya. Akan tetapi seberapapun keras orang mengkritik metode kuantitatif, tetap tidak bisa melenyapkan eksistensi metode tersebut untuk melihat realitas sosial. Termasuk diantaranya realitas demografis.

Salah satu proyekku adalah semacam mixed method(aku belum menemukan istilah yang pas). Beberapa orang tidak setuju, termasuk bosku di kantor tentang penggunaan metode yang dikombinasikan. Dia kuantitaif banget. Kalau aku cenderung  melihat ada kemungkinan elaborasi, dan terus mencoba menggali kemungkinannya. Tantangannya adalah tidak melulu terjebak pada gaya eklektik semata. Kapan-kapan, semoga ada kesempatan aku cerita lebih detail.

Kedua, mengenai jenis kajian sosial. Aku mau cerita mengenai fakta-fakta sosiologis yang tidak seputar Marx hasil iluminasi revolusi industri, Durkheim kohesi sosial dan Weber spirit rasionalisme semata. Kita memerlukan sebuah komparasi yang relevan antara fakta sosial dengan imajinasi sosial yang campur aduk. Misalnya, kenyataan bahwa kepadatan penduduk di Jakarta tahun 2010 sebesar 15.000jiwa/Km2 akan menjelaskana apa?

Dalam kehidupan nyata, aku bisa langsung bercerita tentang kejadian di Stasiun Gambir suatuhari(cc: Puri). Aku berencana mau pipis di toilet umum stasiun tersebut, tapi gagal karena mendapati toilet padat merayap orang antri. Padahal aku mendengar salah satu pengguna toilet komplain kepada penjaga, air di bak toilet tidak layak pakai. Lagian aku tidak membawa uang 1000rupiah sewaktu menuju toilet. Aku memutuskan kembali bergabung dengan temenku di Hokben, dan memilih pipis di kereta: pilihan yang sama buruknya.

Kemarin,awal tahun ini, ada sebuah riset tentang kepadatan lalu lintas manusia di stasiun Gambir. Salah satu efeknya adalah bisnis toilet di stasiun tersebut sangat menjanjikan. Penghasilan satu pojok blok toilet 900rb/hari ratarata, berarti pengguna toilet sebanyak 900 orang. Mari kita kalikan 30=27 juta/ bulan. Di Jakarta, angka penghasilan tersebut bisa disaingi oleh tukang parkir, pengamen atau pemulung.

Kalau aku sedang belajar ekonomi, maka populasi artinya juga studi mengenai sosiologi marketing. Kalau belajar mengenai lingkungan maka populasi yang semakin padat merupakan ancaman bagi alam(air, tanah, udara atau apa saja di atas bumi). Kalau studi tentang civil rights artinya bagaimana social support berlangsung dengan populasi sedemikian banyak. Kalau tertarik dengan ketimpangan dan kemiskinan maka populasi merupakan sebuah ladang untuk menjelaskan realitasnya. Kalau belajar tentang sejarah perkotaan bagaimana sebuah kota terbentuk dari majemuknya populasi. Banyak kan. Bisa dibayangkan efek populasi terhadap perputaran uang(konon 70persen perputaran uang di indonesia ada di Jakarta).

Dan aku juga mau bilang, ujian dari studi demografi adalah validitas angka-angka. Angka memang punya kekuatan. Baru-baru ini pada konferensi Indonesia Update, yang diselenggarakan oleh ANU, melaporkan kualitas pendidikan di Indonesia berdasarkan pada nilai matematika anak yang sedang bersekolah. Realitas tersebut dibandingkan dengan nilai matematika anak di Singapura, Malaysia dan Thailand. Seorang speaker dalam diskusi tersebut bersemangat menjelaskan seriusnya penurunan kualitas pendidikan di Indonesia kurun waktu 2003-2007 dibandingkan tiga negara tersebut(kecuali Singapore, kesejahteraan ekonominya tidak jauh berbeda).  Dari range nilai 0-625(advanced 625,high 550,intermediate 475 dan low 400) 52 persen dari keseluruhan anak Indonesia yang diuji hanya meraih nilai dibawah 400. Padahal rata-rata di tiga negara yang punya nilai low hanya 18persen.  Ini sangat memukau(sekaligus menyedihkan), karena angkanya yang sangat signifikan. Maksudku kekuatan angka ada disini. Angka 52 persen bisa membuat Menteri Pendidikan lari telanjang di Senayan.

Diskusi tentang berbagai sudutpandang dalam analisis memang akan serius, terutama dengan angka tersebut muncul justifikasi pendidikan di Indonesia payah dan memble. Sudah menjadi keharusan kita mendebat dengan pendekatan multivariate ini itu, pendekatan sosial ini itu atau pendekatan cultural ini itu, tapi aku tidak sedang menyoal setuju atau tidaknya. Setidaknya angka telah keluar, menunjukkan kekuatan  52% nilai matematika low! Dan itu memicu adrenalin bergolak.

Sebagian orang mulai pesimis bagaimana realitas sosial diuji dengan data sekunder angka-angka di layar leptop, tabel-tabel dan diagram.  Misalnya: Kemiskinan kok angka, aku pernah membaca sebuah tajuk di surat kabar berjudul seperti itu.

Oke, aku juga bisa mengerti suara negatif tersebut, jika angka-angka kemiskinan lahir dari para pembuat kebijakan atau peneliti sewaan pembuat kebijakan. Tapi kan ada yang bernama metode, setidaknya supaya tidak frustasi terhadap angka kemiskinan tanpa tahu terlebih dahulu apa maunya. Dan bagaimana caranya menentukan kemiskinan.

Di Indonesia, kita punya pak Masri Singarimbun. Pak masri

Waktu itu, beliau mencoba memoderasi konsep kemiskinan ala Indonesia yang agraris. Sedangkan penelitian yang sering dilakukan saat ini biasanya didanai oleh lembaga-lembaga asing seperti Bank Dunia, Ausaid, Nippon Foundation dsb dsb…. soalnya emang mahal pekerjaan riset demografi itu, kalau donornya tidak kuat bisa semaput. Sampai saat ini belum ada orang sekuat dua tokoh di atas, untuk memoderasi kemiskinan di Indonesia,  selain dengan acuan yang paling populer dari Bank Dunia.

Metode pengukuran kemiskinan yang sangat agraris banget, tahun 70-an (udah lama ya?) Pak sajogjo
Pak Sajogjo membuat  pengukuran lewat konsumsi beras perkapita/setiap kepala. Jadi jumlah beras yang dikonsumsi menunjukkan tingkat kemiskinan per kapita. Metode tersebut bisa digunakan sebagai manifestasi kemiskinan yang agraris dengan beras sebagai produksi dan konsumsi utama masyarakatnya. Seiring berkembangnya waktu metode yang digunakan Pak Sajogjo ini irrelevan. Karena konsumsi tidak didasarkan pada konsumsi beras saja. Tapi usahanya perlu kita ingat. Setidaknya pada konteks wilayah dan jaman tertentu metode tersebut bisa digunakan. Dan yang paling penting dari itu semua, seorang peneliti berani merumuskan metodenya sendiri. Intelektual seperti itu di Indonesia sangat langka. Kebanyakan membeo😛

Jika kita percaya lembaga-lembaga survey yang semakin marak, mereka juga menggunakan metode sesuai pesanan donor. Semakin bikin frustasi jika survey-survey tersebut dilakukan untuk memenuhi kampanye kandidat pejabat tertentu. Lembaga penelitian populasi di Indonesia adalah BPS(ada juga LIPI kajian penduduk dan masyarakat), mengandalkan sensus tiap sepuluh tahun atau SUPAS tiap lima tahun. Mari berdoa, data-data penelitian statistik tersebut tidak ditujukan untuk justifikasi program-program pemerintah saja :D…

Emang sih prosedural(ini membuat imajinasi dibatasi) dan mahal(membuatnya gampang dimanipulasi oleh kepentingan tertentu) bok. Tapi sosiologi musti disana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s